Ikhlas. Mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk diterapkan. Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Seorang ulama saja masih merasa sulit, bagaimana dengan kita?
Ikhlas berasal dari kata khalasha yang secara bahasa berarti membersihkan. Sedangkan secara istilah artinya membersihkan niat dan motivasi, serta hanya menjadikan Allah sebagai tujuan. Lawan dari ikhlas adalah riya’, yaitu beramal karena mencari keridhaan manusia, ingin dipuji, dan bukan karena Allah. Riya’ termasuk salah satu dosa yang merusak amalan, dan ancaman terhadapnya sangat besar dan keras dalam Al-Quran dan Hadits,
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 264)
وَالَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَـاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَن يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِيناً فَسَاء قِرِيناً
“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS. An-Nisa: 38)
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَارِهِم بَطَراً وَرِئَاء النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَاللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-anfal: 47)
Dan riya’ juga termasuk salah satu sifat orang munafik dan orang kafir,
إنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ () الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ () وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ()
“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maa’uun: 5-7)
Maka bisa dikatakan bahwa ikhlas adalah salah satu prinsip yang besar dan penting di dalam agama Islam. Karena hilangnya Ikhlas menjadi sebab tertolaknya amal ibadah. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya orang yang paling pertama akan diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, maka Allah-pun memperkenalkan nikmatNya kepadanya dan diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang engkau perbuat untuk mendapatkan nikmat tersebut? Maka lelaki tersebut menjawab: Aku telah berperang dalam rangka menegakkan kalimatMu sampai mati syahid. Dia membantah lelaki tersebut: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan itu telah dikaitkan kepadamu. Kemudian diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya sehingga dicampakkan ke dalam api neraka. Kemudian seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Maka diapun didatangkan menghadap Allah untuk memperlihatkan nikmatnya sehingga diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang telah engkau perbuat untuk meraih kenikmatan tersebut? Lelaki tersebut menjawab: “Aku belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an semata karena diriMu. Allah membantah: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau menimba ilmu agar dikatakan orang yang alim dan membaca Al-Qur’an agar orang memujimu sebagai orang pandai membaca, dan itu telah dikatakan bagimu, maka diperintahkanlah malaikat menggeretnya di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka. Dan seorang lelaki yang diluaskan rizkinya oleh Allah dan diberikan baginya bermacam-macam harta. Maka dia dihadapkan kepada Allah dan Dia memperkenalkan baginya nikmat-nikmatnya. Lalu Allah bertanya kepadanya: Apakah yang telah kamu kerjakan untuk mendapatkannya? Dia menjawab: Tidaklah satu jalan pun yang engkau senangi untuk diinfaqkan harta padanya kecuali aku menginfakkan harta padanya karena diriMu”. Allah membantahnya: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau mengerjakan perbuatan tersebut agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal tersebut telah katakan bagimu”. Kemudian dirinya digeret di atas wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam api neraka)). Lalu pada saat hadits ini sampai kepada Mu’awiyah maka diapun menangis dengan sejadi-jadinya, lalu pada saat dia telah sadar dia berkata: Maha benar Allah dan Rasul-Nya:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”
“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Perhatikan dan renungkanlah hadits di atas. Bagaimana seorang ahli al-Qur’an tidak mendapatkan syafa’at dari al-Qur’an itu sendiri padahal al-Qur’an memiliki hak untuk dapat member syafa’at bagi mereka yang senantiasa membacanya dan mengajarkannya? Tidak adanya syafa’at dari al-Qur’an disebabkan hilangnya keikhlasan pembacanya. Demikian pula dengan pemilik harta dimana kebaikannya kepada orang lain dan silaturrahimnya tidak dapat menjadi penolong baginya, disebabkan hilangnya keikhlasan di dalamnya. Demikian pula keadaannya dengan sang Pejuang yang terbunuh di medan perang, dimana terbunuhnya dia di sana tidak dapat memberikan pertolongan baginya di hari kiamat, disebabkan karena pengorbanannya hampa dari keikhlasan.
Dari Mahmud bin Labid: Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Hal yang paling aku takutkan terjadi pada diri kalian adalah syirik kecil” para sahabat bertanya: ‘apa syirik yang kecil itu wahai Rasul Allah?’, Rasulullah menjawab: “Riya’, pada hari Qiyamat nanti, pada hari pembalasan atas setiap perbuatan, Allah Swt akan berkata kepada mereka (yang berlaku riya’): “pergilah kalian kepada mereka (dimana amalan kalian persembahkan) dan carilah balasan dari perbuatan kalian itu dari sisi mereka” (Dikeluarkan oleh Ahmad).
Dalam hadits yang lain disebutkan:
Dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang mencari popularitas dengan amal perbuatannya, maka Allah akan menyiarkan aibnya dan barang siapa yang riya’ dengan amalnya, maka Allah akan menampakkan riya’nya” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Masya Allah… Betapa pentingnya keikhlasan. Ketika keikhlasan terabaikan… Apalagi yang mau kita andalkan? Padahal ia salah satu syarat diterimanya sebuah amalan…
Begitu meruginya kalau kita beramal tanpa keikhlasan. Pertama, amalnya sia-sia karena Allah tolak. Kedua, tidak ikhlas adalah suatu pertanda ada motivasi lain selain ridha Allah, maka masuklah ke dalam riya’, dan riya’ adalah syirik. Ketiga, riya’ termasuk salah satu sifat orang munafik. Wal’iyaadzu billah.
Semoga semua amal-amal kebaikan kita semata-mata murni karena Allah SWT, ikhlas karena Allah swt.
Wallahua’lam.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19354/ketika-keikhlasan-terabaikan/#ixzz1sAUNMccZ
Dalam perspektif kita sebagai seorang muslim, nabi Muhammad adalah prioritas biografi yang harus kita abaca & kita fahami karena ini akan menyangkut amaliah dan aktifitas ibadah kita. Dalam kajian amal para ulama mengatakan ada 2 syarat amal itu diterima, yang pertama yaitu ikhlas dan yang kedua ‘Itiba (mengikuti apa yang dicontohkan oleh rosulullah SAW), dengan begitu apabila kita tidak mengetahui apa yang dicontohkan oleh Rosullullah SAW, amal kita akan menjadi cacat, menjadi rusak disinilah pentingnya kita menta’arufi lebih lanjut, yang mengenali lebih lanjut sosok nabi Muhammad SAW kerena ada kaitanya dengan amal kita, kaitanya dengan ibadah kita, Tanpa kita mengenali tauladan kita Rosulullah SAW ada kemungkinan kita melakukan kesalahan-kesalahan dalam ibadah kita meskipun kita melakukannya dengan ikhlas. Itulah pentingnya kita mempelajari Sirah.
Didalam surat Al Ahzab ayat 21 Allah SWT meng informasikan kepada kita, jika kita ingin menjadi baik maka kita harus mengikuti track dan jalur yang sudah dilalui Rosulullah SAW, Allah mengatakan:
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).
Teladan itu ada pada semua aspeknya, pada setiap detil kehidupan, ada pada diri Rosulullah SAW dan tidak pernah ada biografi yang selengkap apa yang pernah dipertontonkan / dipertunjukkan oleh Rosulullah SAW, bahkan dikalangan para Nabi sekalipun tanpa kita bermaksud untuk membeda-bedakan antara nabi yang satu dengan yang lainnya tetapi pada faktanya kita menemukan bahwa biografi ataupun sirah Rosulullah SAW itu adalah biografi yang paling lengkap yang memuat berbagai macam aspek dan pembahasan, misalnya saja dalam kitab Khosasul Anbiya / kisah para Nabi, misalnya kita mengkaji tentang riwayat hidup Nabi Isa AS, ada suatu hal yang barangkali tidak bisa kita pelajari dari beliau, misalnya bagaimana seharusnya keluarga dibina dengan ideal, karena nabi Isa tidak menikah, nabi isa tidak mempunai istri dan anak, sehingga kita sulit untuk menemukan bagaimana contoh kongkrit dari nabi Isa untuk kita praktekan dalam kehidupan berumah tangga / berkeluarga, tetapi Rosulullah SAW telah menauladankan kepada kita. Kita sulit menemukan teladan dari Nabi ayub dalam Aspek Militer karena nabi Ayub bukan seorang komandan pasukan tetapi kita akan bisa belajar banyak pada nabi Ayub dalam hal kesabaran. Tetapi itu diteladankan juga oleh Rosulullah SAW dalam memimpin pasukan dalam peperangan-peperangan yang banyak, maka uswatun hasanah / tauladan yang baik inilah ada pada setiap diri Rosulullah / pada setiap aspek kehidupan yang memungkinkan kita untuk mengadaptasi semua yang ada pada diri Rosulullah dalam kehidupan yang nyata.
Dan itu semua hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memang punya keinginan yang kuat / punya obsesi yang besar terhadap pertemuan dengan Allah SWT kelak dan juga memiliki keinginan yang besar untuk segera bertemu dengan yaumil akhir, karena bagi orang beriman yaumil akhir itu adalah sesuatu yang didambakan, karena semakin cepat dia bertemu dengan yaumil akhir maka semakin cepat dia bertemu dengan syurga Allah SWT, lain dengan orang kafir yang sebaliknya. Dan juga bagi mereka yang senantiasa ingat kepada Allah SWT. 3 (Tiga) karakter orang inilah yang bisa menauladani Rosulullah SAW, diluar itu seakan-akan kita mempunyai barier / tembok tebal yang memisahkan antara kita dengan rasul, maka tidak semua orang bisa menauladani Rosulullah SAW, semakin orang dekat dengan Allah maka semakin mudah orang itu untuk bisa menauladani Rosulullah SAW, sebaliknya semakin jauh dari Allah maka semakin sulit dia menauladani rosulullah SAW. Dalam surat Al Imran ayat ke 31, Allah mengucapkan kepada kita:
Katakanlah wahai muhammad, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah.” (QS Ali Imran [3]: 31).
Ada syaratnya jika kita ingin mencintai Allah dengan benar, yaitu dengan cara kita mengikuti millah dan jejak yang pernah dilalui Rosulullah SAW.
Dari dua ayat ini sudah cukup untuk kita memahami bahwa menta’arufi Rosulullah SAW dengan baik adalah suatu hal yang prioritas bagi kita, karena tidak mungkin kita menjadi muslim yang baik tanpa kita mengenali tauladan ita yaitu Rasulullah SAW.
Sesungguhnya jika kita memang sodik / benar mempelajari sirah Rosulullah SAW secara otomatis akan tumbuh ghirah / semangat / militansi dalam diri kita, karena sesunggahnya kita adalah umat yang beruntung, karena Allah telah menghadirkan untuk kita seorang rosul yang luar biasa hebatnya, yang dalam beberapa hal para Nabi bahkan para Rosul pun tidak memiliki apa yang dimiliki Rosulullah SAW.
Muhammad adalah rasul yang mendapatkan kesuksesan-kesuksesan besar dalam dakwahnya, beberapa kali bahkan hampir di setiap pertempuran bersama sahabat selalu dimenangkan oleh rasulullah, dan tidak hanya itu, ia bisa lihat pengikut yang dimiliki Rasulullah SAW adalah pengikut yang sangat banyak, yang tidak pernah dimiliki Rasul manapun. Dan Muhammad SAW adalah seorang rasul, yang kelak satu-satunya Nabi yang dapat memberikan syafaat kepada umatnya, semua umat manusia saat itu terombang-ambing ingin mendapatkan pertolongan / Syafa’at, datang kepada nabi Adam ditolak, kepada Nabi Ibrahim ditolak, kapada Nabi Musa ditolak, dan hanya kepada Nabi Muhammad-lah mereka bisa mendapat syafaat.
Bahkan didalam Hadits Rasulullah SAW, Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang akan didahulukan oleh Allah SWT untuk memasuki syurga Allah, setelah orang terakhir dari umat Muhammad masuk syurga, baru setelah itu disusul oleh umat yang lainya, padahal umat Muhammad adalah umat akhir zaman, tetapi untuk urusan masuk syurga, umat Muhammad diprioritaskan oleh Allah.
Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kita semua, memiliki seorang Rasul / Nabi yang dicintai oleh Allah SWT, maka kalau kita memahami ini dengan betul akan tumbuh ghirah dalam diri kita, minimal ada kepercayaan diri pada diri kita bahwa kita adalah umat yang terbaik yang dipilih oleh Allah SWT. Yang kedua kita bisa membandingkan bagaimana perjalanan yang dilalui rasulullah SAW dengan perjalanan yang kita lalui sekarang yang dapat menumbuhkan ghirah kita. Kadang kita didalam dakwah itu kita merasa sedih, lelah, marah, kecewa, tetapi sebenarnya hal itu tidak pernah sebanding dengan yang dirasakan oleh Rosulullah SAW. Siapa diantara kita yang pernah merasakan diusir dari kampong halaman karena berdakwah, dilempar kotoran hewan karena berdakwah, diboikot selama 3 tahun karena berdakwah. Rasulullah SAW berhijrah dari mekah ke madinah meninggalkan kampong halaman, meninggalkan asset, meninggalkan keluarga dan lainnya, yang bahkan sering kali ketika Rosul mengingat mekkah bercucurlah air matanya. bilal mencucurkan air matanya saat bersyair dengan menyebut kota mekkah, mereka rindu kota kota mekkah namun mereka tak kuasa kembali karena disana meraka diperangi. Dengan begitu kita bisa membandingkan tantangan yang kita hadapi dengan yang dihadapi Rosul tidak sebanding.
Ada beberapa hal yang menjadi point yang menjadi Urgensi dalam mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW
1. Sirah Nabi adalah sebuah inspirasi bagi kehidupan kita
Dengan mempelajari sirah kita akan bisa menemukan kunci-kunci kesuksesan dan bisa menemukan bagaimana cara untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup kita, teori sejarah mengatakan bahwa sejarah itu akan berulang, meskipun beragam dalam mengkntekskan pengulangan sejarah itu, kalau ibnu Khaldun seorang sejarawan muslim mengatakan bahwa pengulangan sejarah itu berbentuk spiral, terus berputar keatas atau kebawahnya, modelnya sama tetapi detilnya berbeda, dengan begitu kita bisa menemui solusi-solusinya disana.
2. Akan lahir dalam diri kecintaan kepada Nabi dan kecintaan kita kepada sahabat yang menimbulkan pengorbanan didalam dakwah.
Tak kenal maka tak sayang, tak mungkin kita akan cinta kepada Nabi kalau kemudian kita tidak mengetahui sepak terjangnya, pengorbanannya, cintanya kepada kita, kesabarannya, ketegaranya, jika kita sudah tumbuh cinta dalam diri maka akan mudah melakukan pengorbanan-pengorbanan didalam dakwah.
Hubay bin adi saat itu akan disalib oleh Abu Sofyan, saat itu Abu Sofyan mengatakan “Wahai hubay, suka kah kamu saat ini kamu pulang kerumahmu bertemu anak istrimu dan Muhammad menggantikan posisimu disini” kemudian Ubay menjawab “Demi Allah andaikan Muhammad tertusuk duri sedikitpun, Aku tak akan pernah rela”, maka setelah itu Ubay bin adi disalib, kemudian malaikat jibril mengabarkan kepada nabi Muhammad bahwa Ubay bin adi telah disalib, kemudian Nabi meminta Ali untuk menurunkan jasad Ubay dari salib.
Bukan hanya itu Abu de jannah siap berkorban dengan apapun karena kecintaanya kepada Nabi, ketika perang uhud pasukan qurais menghujani rosulullah dengan berbagai senjata, Abu de jannah dengan tidak ragu memeluk rosulullah dan punggungnya digunakan sebagai tameng untuk melindungi rosulullah, dalam sirah dikatakan bahwa punggung Abu de jannah seperti landak, banyak senjata yang menancap dipunggungnya.
Sikap pengorbanan yang spontan ini bukanlah hadir tiba-tiba, tetapi melalui proses tahap bagaimana membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW.
3. Kita dapat mengetahui hokum yang disampaikan Allah dalam Al Qu’an
Kita mengenal Asbabun Nuzul / sebab-sebab turunnya ayat, dengan mengetahui itu kita dapat menentukan hukumnya seperti apa, yang menjadi syarat pokok seorang mufasir adalah mengusai Ilmu Asbabun Nuzul / Sebab-sebab turunnya ayat, kerena Asbabun Nuzul berkaitan erat dengan kehidupan rasulullah SAW dan para sahabat, tanpa kita memahami sirah, kita tidak akan pernah tahu tentang Asbabn Nuzul, dan dengan begitu kita tidak akan pernah mengetahui secara sempurna hukum-hukum didalam Al Qur’anul karim, jika kita tidak mengetahui hukum-hukum didalam Al Qur’anul karim maka kita akan sesat, karena Alqu’an merupakan petunjuk.
4. Kita dapat menguasai model dakwah rasul
Kita mengenal Syiriyatu dakwah wa syiriyatu tanzim, zahriyatu dakwah wa syiriyatu tanzim, atau dalam detil kita mengenal bagaimana rosulullah berdakwah, kita juga bisa mengambil contoh kongkret suatu kaidah yang mengatakan “Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar akalnya” rosul mencontohkanya bagaimana berdakwah sesuai kadar akalnya.
Suatu ketika datang kepada rosul seorang pemuda, kemudian pemuda itu berkata “ Wahai rosul, saya ingin berzinah”, kemudian rosul mengatakan “mendekat” kemudian pemuda itu mendekat dan dipegang dadanya oleh rosul, kemudian rosul berkata “Wahai pemuda, kamu punya ibu?” pemuda itu menjawab “punya”, kemudian rosul bertanya lagi “kamu punya bibi?” pemuda itupun menjawab “punya”, rosulpun bertanya lagi “kira-kira Kalau ibumu atau bibimu dizinahi orang, apa yang kamu lakukan?”, kemudian pemuda itu menjawab “aku tidak menerima itu, aku akan membuat perhitungan kepada yang menzinahi kelargaku itu”, kemudian rosulpun menjawab “Nah begitulah, wanita yang akan kamu zinahi itu adalah ibu/bibi/anak/kakak/adik dari seseorang dan mereka tidak bisa terima jika keluarganya dizinahi olehmu”.
Model yang dilakukan rosul adalah dialog dengan bahasa-bahasa yang santun bukan langsung justifikasi.
5. Kita dapat menemukan metode Allah memberikan Tarbiyah kepada Nabi
Sesungguhnya Nabi juga di didik oleh Allah untuk mempelajari tenntang perjalanan nabi-nabi sebelumnya.
6. Bahwa Nabi Muhammad adalah terjemah hidup Al Qu’an yang lengkap
Teori manapun didalam Al Qur’an terejawantahkan dalam diri rosul, dengan begitu kita mudah mengaplikasikan dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW
Dan terakhir yang terpenting adalah dengan memahami sirah adalah upaya kita merebut kembali model kepemimpinan yang telah hilang dari muka bumi ini, yaitu kepemimpinan yang dapat memberdayakan umat dan utuk kemjuan umat. Agar kita kembali menjadi soko guru dunia, menjadi pemimpin dengan keadilan & kesejahteraan serta kaidah-kaidah syar’iyah yang sudah Allah gariskan.


